Putri Calista dan Kadal
Di sebuah desa pinggiran hutan, tinggalah seorang janda dan anak gadisnya
yang cantik bernamakan putri calista. Meski berwajah cantik nan rupawan itu
amat rendah diri. Tapi, dibalik itu semua ia menyimpan penyakit kulit yang
merah-merah.
Putri calista bersahab baik dengan seekor hewan kadal. Dimana ada putri
calista disitu pasti ada sahabat karibnya itu. Mereka bersahabat karena putri
calista pernah menyelamatkan kadal dari tusukan duri-duri yang hinggap
ditubuhnya.
Suatu hari, saat bulan purnama bersinar di langit, betapa cantiknya putri
calista. Kulitnya putih bersih, berkilau ditimpa cahaya rembulan yang indah.
‘’kamu cantik sekali dalam cahaya rembulan, putri calista kamu seperti seorang
putri kerajaan’’,Puji kadal sahabatnya.
Putri calista tersipu mendengar pujian itu.
‘’namun aku akan segera menjadi putri yang sangat jelek kalau rembulan
tidak menyinari tubuhk’’. Ujar putri calista sedih wajahnya nampak mendung.
‘’jangan begitu putri calista, kau tetap putri yang baik hati meski kulitmu
berubah menjadi penyakit kulit yang merah-merah. Hatimu yang mulia tak akan ada
yang berubah hanya karena perubahan kulit tersebut.
Tanpa mereka sadari, lewatlah seorang pangeran menggunakan kuda berwarna
putih dan pulang kemalaman karena sehabis berburu. Melihat putri calista dengan
terpesona dan takjub melihat kemolekan. Belum pernah ia melihat seorang putri
secantik itu. ‘’wahai putri cantik, kau tak pantas tinggal dipinggir hutan yang
sepi. Tinggalah diiistanaku. Enggakau, akan kupersunting menjadi permaisuriku.
Tunggulah sampai kuperintahkan pengawal-pengawalku menjemputmu menggunakan
kereta kencana.
Hati putri calistapun berbunga-bunga mendengar perkataan sang pangeran.
Sebentar lagi ia akan menjadi permaisuri. Tak lagi hidup miskin, tinggal di
pinggir hutan yang sepi. Namun tanpa putri calista sadari ada orang yang sedih
jika putri calista meninggalkan dirinya, yaitu sahabatnya kadal.
Petangpun mulai datang waktunya untuk putri calista istirahat, tetapi
ketika ia tertidur. Ia bermimpi bertemu dengan seorang tabib sakti. Tabib itu
berkata ‘’mudah sekali nak menyembuhkan penyakit kulitmu putri calista.
Makanlah daging kadal sahabatmu itu. Maka, kulitmu akan kembali normal.
Putri calista menceritakan mimpinya itu kepada kadal sahabatnya. Si kadal
malah tersenyum mendengarnya dan berkata ‘’mimpiku sama dengan mimpimu. Seorang
tabib sakti memintaku bersedia memberikan tubuhku untuk menyembuhkanmu. Akau
sangat bahagia jika itu bisa membantumu, putri calista! Asal hidupmu bahagia
bersama pangeran’’ujar si kadal tulus.
Putri calista termenung.
‘’ayo, putri calista. Pada saat malam tiba bakarlah tubuhku untuk hidangan
makan malammu’’. Lagi-lagi kadal menawarkan dirinya.
Putri calista sangat terharu.
‘’tidak kadal sahabatku. Aku tidak mau karena aku tak sanggup melihat
sahabatku tidak ada nantinya. Jika pengawal itu datang maka, akan kutolak saja
biarlah, aku menjadi puri si penyakit merah-merah. Asal kau tetap disampingku,
kadal sahabatku.
Dua sahabat itu akhirnya berpelukan bahagia.



